English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Cari Postingan

Hikmah Puasa Bagi Perkembangan anak

Sumber Artikel : Kancil, Berbagi Cerita

Bulan puasa (Ramadhan) telah tiba. Umat islam bersuka cita menyambut bulan penuh berkah ini. Makna kegiatan puasa dapat di tinjau dari berbagai dimensi : spiritual, kesehatan, emosi, sosial, termasuk juga aspek moral sebagai muaranya.

Nah, bagi si kecil (usia 6 tahun ke bawah), puasa juga dapat menjadi medium bagi perkembangan dirinya dari berbagai aspek tadi. Uraian berikut akan membahas makna dan peran puasa dari sudut perkembangan psikologis, khususnya belajar tentang kejujuran, disiplin, berempati, berbagi, dan belajar bekerja sama.
Secara umum ada 3 (Tiga) aspek perkembangan yang harus digarap secara simultan dalam menanamkan dan mengembangkan perilaku tersebut, yaitu aspek kognitif (knowing), afektif (feeling), dan psikomotor (acting).

Kejujuran
Kejujuran, aspek yang sangat mendasar dan diperlukan bagi seseorang dan lingkungannya. Kata hati (conscience) yang merupakan pusat pengembangan moral seseorang, berawal dari kejujuran. Seseorang akan dapat dipercaya atau tidak dalam bekerja sama, bergantung pada, apakah ia dapat berperilaku jujur atau tidak. Dalam komunitas yang lebih besar, saat ini kita merasakan betapa memprihatinkannya kondisi ekonomi dan sosial bangsa kita karena adanya berbagai kasus yang berpangkal pada ketidakjujuran. Jati diri bangsa kita yang dulu kita pelajari sebagai bangsa yang luhur seolah (hampir) menjadi kenangan. Sulit sekali saat ini kita mencari tokoh yang patut di teladani kejujurannya.
Esensi kejujuran adalah apa yang dibicarakan, itulah yang dilakukan, baik terlihat maupun tidak. Penerapannya memang tidak mudah, karena sebagai makhluk sosial, manusia memiliki banyak pertimbangan untuk menampilkan dirinya apa adanya. Ada kekhawatiran munculnya penilaian negatif, dan bahkan tidak diterima oleh lingkungan. Belum lagi adanya dari berbagai kebutuhan dan aturan yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan pengenalan, penanaman, dan pembiasaan yang terus-menerus.

Sebegitu pentingnya dan langkanya ”kejujuran“ ini, tentu kita sebagai orangtua sekaligus pendidik perlu memiliki obsesi untuk menanamkan kejujuran sejak dini. Sejak anak kita masih dalam kandungan, dimana semua hal positif sekaligus negatif dapat tertransfer secara spiritual maupun neuro–psikologis. Namun itu pembahasannya akan sangat panjang, secara konkret, kita dapat mulai menanamkan kejujuran sejak kita dapat berinteraksi dengan ananda (di usia 6 bulan). Namun untuk memperkenalkan kejujuran sehubungan dengan aktifitas di bulan Ramadhan, secara verbal dengan ananda, yaitu ketika ananda berusia sekitar 2 tahun.
Cara Menanamkan Kejujuran
Ketika bulan Ramadhan, kita dapat menanamkan kejujuran bagi ananda melalui aktifitas  berikut :
A. Knowing
    Kenalkan apa itu aktifitas berpuasa, bagaimana “ aturan mainnya”.
·                 Kita dapat memperkenalkannya dengan membahasakan, melabel ataupun memverbalkan apa yang sedang kita laksanakan.
·                 Bacakan buku cerita seputar kegiatan dan hikmah bulan Ramadhan.
B. Feeling 
    Ajak anak mengenali berbagai perasaan yang muncul terkait bulan Ramadhan.
·                 Gembira menyambut Ramadhan, apakah bergembira karena pahala yang bertaburan pada saat Ramadhan, karena dapat berkumpul dengan semua anggota keluarga pada saat sahur dan buka puasa, atau karena makanan yang disiapkan Bunda adalah makanan kesukaan ananda.
·                 Rasa tidak nyaman, atau sedih, ketika harus menahan lapar.
C. Acting
    Anak mulai dilatih untuk : 
·                 Berpuasa, sekuatnya, sesuai dengan usianya. 
Bagi anak–anak yang baru berusia 3 tahun kebawah, berpuasa 1 atau 2 jam saja sudah cukup. Kemudian pada usia 4–6 tahun baru dicoba setengah hari, dan selanjutnya bisa terus ditingkatkan hingga satu hari penuh. Hal ini dapat dibicarakan sebelumnya antara orangtua dengan ananda.
·                 Jika anak tidak sanggup merampungkan puasanya, mintalah ananda menyampaikan apa adanya. Orangtua agar bersikap memahami.  Katakan bahwa ayah/bunda sangat menghargai kejujuran ananda, dan ia dapat berbuka puasa sendiri di tempat yang tidak terbuka. Kaitkan dengan spiritualitas, Allah SWT senang dengan anak yang jujur.